Social Distancing: Strategi Sederhana yang Efektif Melawan COVID-19

Social distancing diserukan pemerintah Indonesia demi menghadapi wabah COVID-19. Namun, apakah Anda sudah mengerti arti social distancing? Apakah kebijakan ini benar-benar berguna dalam keadaan ini?

Sebelumnya, organisasi Kesehatan Dunia, atau WHO telah menjadikan status COVID-19 sebagai pandemi karena virus corona telah menginfeksi lebih dari 120 negara dengan lebih dari 1.4 juta kasus, dan mencatatkan kematian di atas 83.000 korban. COVID-19 menjadi ancaman besar bagi kita semua karena angka penularan yang sangat ekstrem, jauh lebih tinggi dibanding MERS dan SARS beberapa tahun yang lalu.

Virus yang menyerang sistem pernapasan ini memiliki waktu inkubasi dua hingga 14 hari, menunjukkan gejala demam tinggi, batuk, dan napas yang berat. Namun, pada beberapa kasus juga ditemukan kasus COVID-19 tanpa menunjukkan gejala sama sekali. Meskipun angka kematian yang masih di kasaran 6%, virus corona sangat mematikan bagi pasien usia lanjut atau bagi korban dengan yang memiliki riwayat penyakit dalam.

Namun, yang menjadi masalah utama dari virus ini adalah penyebarannya yang sangat cepat dan mudah. Seseorang bisa terinfeksi virus corona hanya dengan tidak sengaja menyentuh bagian wajah dengan tangan yang secara tidak sadar telah menyentuh benda-benda yang telah terkontaminasi oleh virus. Selain itu, masuknya cipratan air (droplet) dari seseorang positif COVID-19 ke orang lainnya juga menjadi media transmisi dari virus ini. Droplet bisa tidak sengaja masuk ke dalam tubuh jika kita berada di dekat seorang carrier (pembawa virus) yang sedang batuk atau bersin. Dalam kasus tertentu, kadang seseorang berbicara juga bisa mengeluarkan droplet.

Oleh sebab itu social distancing telah diupayakan di seluruh Indonesia juga di negara-negara terinfeksi lainnya guna menekan angka penularan kasus ini. Social distancing sendiri merupakan strategi kesehatan publik yang telah direkomendasikan oleh para ahli untuk mencegah, melacak, dan menghambat penyebaran virus corona. Untuk wabah COVID-19, WHO telah menganjurkan untuk menjaga jarak sekitar dua meter dengan orang terdekat untuk mencegah penularan virus melalui droplet.

Baca Juga :  Kandungan Suplemen Herbal yang Mampu Meningkatkan Imunitas Tubuh

Social distancing bukan pertama kali ditemukan dan diaplikasikan di tahun 2020. Pada tahun 1918 ketika sebuah pandemi berlangsung di Amerika, beberapa kota besar seperti Philadelphia tetap melaksanakan parade di jalan-jalan utama demi mempromoskian obligasi. Padahal, saat itu telah diketahui sekitar 6000 tentara terinfeksi oleh virus flu jenis baru. Berbeda dengan kota Saint Louis yang memilih untuk membatalkan pawai serta mulai membatasi pertemuan publik berkaitan dengan berita adanya wabah flu.

Alhasil, dalam hitungan satu bulan setelah parade, sekitar 10.000 warga Philadelphia meninggal akibat wabah tersebut, sementara di kota Saint Louis tak lebih dari 700 jiwa dilaporkan meninggal. Efek ini sangat berasa karena pada kasus di kota pertama, pemerintah harus berjibaku dan kewalahan karena jumlah korban terinfeksi terlalu jauh melampaui kapasitas rumah sakit di seluruh kota.

Sejarah telah mengajarkan kepada dunia, bahwa kebijakan pembatasan pertemuan atau kegiatan publik yang diambil oleh Saint Louis secara jelas dapat menekan proses penularan virus, sehingga angka kematian dari wabah bisa jauh berkurang. Data dari banyak studi menunjukkan bahwa kota-kota yang melarang adanya pertemuan publik, pementasan, acara-acara masal, bahkan yang menutup sekolah dan tempat ibadah memiliki angka kematian yang relatif lebih sedikit.

Setelah satu abad pasca wabah flu spanyol, dunia kembali diuji oleh wabah yang dapat mengancam nyawa manusia dengan penyebaran yang luar biasa cepat. Karena sampai saat ini belum ditemukan vaksin dan obat khusus yang dapat membunuh virus corona, social distancing adalah strategi terbaik guna melawan wabah COVID-19.

Jadi, setelah mengerti arti dan sejarahnya, sudah percaya kan kalau social distancing mencegah corona?